Aspek Intelejen dalam Geopolitik dan Geostrategi

Sudah menjadi kewajaran dalam hubungan antar negara bahwa hubungan antar lembaga intelijen mencerminkan kedekatan hubungan antar negara. Dalam formalitas hubungan antar lembaga intelijen di seluruh dunia akan terjadi saling mengirim utusan perwakilan, diskusi bilateral, analisa bersama, hingga operasi bersama. Dalam contoh yang paling erat hanya terjadi di dunia Barat, khususnya dalam kerjasama intelijen antara Amerika Serikat dengan Inggris. Selebihnya masih diwarnai saling curiga karena secara natural intelijen akan selalu mencurigai intelijen yang lain.

Pentingnya aspek intelijen dalam hubungan antar negara adalah membuka pintu-pintu yang tertutup, menjembatani kemungkinan terciptanya konflik, serta mempererat kerjasama yang saling menguntungkan, bahkan membangun aliansi strategis guna memelihara stabilitas dan kepentingan nasional masing-masing. Terkait dengan catatan pentingnya aspek intelijen, maka tidaklah mengherankan apabila lembaga intelijen di seluruh dunia mencatat dengan sangat serius perilaku intelijen asing.

Intelijen Barat, khususnya CIA (AS) dan MI6 (Inggris) memiliki catatan dan reputasi yang sangat buruk dalam sejarah pemerintahan Orde Lama yang berujung pada pembantaian kelompok komunis Indonesia, hancurnya kelompok Islam politik, dan jatuhnya Presiden Sukarno. Namun CIA memiliki catatan semanis madu pada masa awal dan pertengahan pemerintahan Orde Baru berupa bantuan teknis pembentukan lembaga kontra intelijen dalam bentuk Unit Pelaksana Operasi. CIA berada di belakang penguatan fondasi pemerintahan Orde Baru yang pada awalnya diharapkan akan menjadi sahabat barat.

Namun Indonesia adalah Indonesia yang lebih senang berkelahi di dalam dan kurang memperhatikan pentingnya konsistensi kebijakan yang akan membawa pada perubahan secara bertahap menuju pada kejayaan Indonesia Raya. Dinamika politik dalam negeri Indonesia senantiasa diwarnai oleh kompetisi kekuatan politik dan kekuatan ekonomi, sehingga Orde Baru yang dibangun dari kudeta tanpa darah memiliki mentalitas psikologis rasa tidak aman karena musuh domestik di mana-mana. Musuh politik berupa kelompok sosialis-komunis kemudian dilabelkan sebagai bahaya laten yang harus ditumpas hingga ke akar-akarnya, kelompok Islam politik dimarjinalkan dan dikooptasi dalam partai yang tunduk pada pemerintah, kelompok kritis yang peduli pada situasi sosial dan keadilan ekonomi dicap sebagai melawan pemerintah, kelompok liberal yang membela kebebasan berpendapat dicap sebagai antek barat, kelompok etnisitas dianggap sebagai potensi separatis dan eksklusifisme dan sebagainya.

CIA telah melatih sejumlah agen pilihan Indonesia pada tahun 1970-an bahkan memberikan pelatihan di Amerika Serikat dan mengirimkan bantuan teknis berupa alat-alat intelijen ke Jakarta, termasuk pornografi (efek negatif untuk meliberalkan agen-agen Indonesia terhadap Barat). Di bidang Militer, sejumlah bantuan militer dari kemudahan pembelian peralatan perang (senjata dll) hingga pelatihan International Military Education and Training (IMET)yang dibekukan pada tahun 1992 membuktikan bahwa hubungan Indonesia-AS cukup erat selama era Perang Dingin. Persoalannya pada era Orde Baru adalah Indonesia tidak memaksimalkan kedekatan hubungan dengan barat tersebut untuk penyelesaian hingga tuntas isu-isu konflik di dalam negeri seperti separatisme Timor-Timur, Aceh, Maluku, Papua, hingga akhirnya persoalan itu baru dapat dibahas pada era reformasi.

Kejatuhan Orde Baru banyak diwarnai oleh murni persoalan domestik Indonesia yang semakin parah dengan kasus korupsi yang teramat besar, kebencian pada pemerintah dan militer yang memuncak serta ledakan kebebasan berekspresi yang tidak pernah hilang dalam gerakan bawah tanah. Lagi-lagi CIA dan sekutunya hanya melakukan sedikit suntikan kematian dengan mendorong pemerintahan Orde Baru yang berdiri di pinggir jurang untuk jatuh. Antara lain hal itu dilakukan melalui agen-agen handal yang berada di sekitar Prabowo, Wiranto dan di sekeliling gerakan reformis dan gerakan oportunis. Dalam kasus ini bolehlah kita anggap sebagai win-win solution karena rakyat Indonesia juga menghendaki hal yang sama dengan CIA yaitu mengganti pemerintahan yang korup di bawah Orde Baru.

Pada sisi lain, intelijen Cina di Jakarta lebih memperhatikan penyelamatan aspek bisnis yang dapat berdampak ke Cina melalui pengusaha Cina perantauan yang sebagian masih loyal kepada Cina. Sehingga peranan mereka lebih kepada melindungi kepentingan ekonomi karena Cina sedang tumbuh pesat, maka dapat menjadi alternatif pelarian kapital sehingga sekaligus mendapatkan keuntungan. Dalam kaitan ini, intelijen Singapura juga sangat berkepentingan sehingga tercatat dalam pelarian modal yang terdekat dan aman adalah ke Singapura dan berikutnya ke Cina.

Walaupun sesungguhnya para pengusaha Cina cukup loyal kepada Indonesia, namun uang tidak memiliki negara dan ia mengalir ke tempat yang lebih aman dan stabil sehingga kita tidak dapat menyalahkan terjadinya pelarian modal/kapital dari Indonesia ke luar negeri. Situasi reformasi yang membuat perubahan dalam tata hubungan negara dan swasta di bidang ekonomi telah menyebabkan sebagian pengusaha enggan membawa kembali modalnya ke Indonesia karena tidak ada lagi kekuasaan yang menopang monopoli ekonomi kelompok tertentu. Pemerintah berganti beberapa kali dan pengawasan terjadi dimana-mana dan korupsi tidak lagi menjamur walaupun belum hilang sama sekali.

Indonesia yang stabil secara politik, mantap secara ekonomi, dan kondusif secara sosial, membuka kembali peluang perubahan dan peningkatan kesejahteraan rakyatnya. Hal ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah kekuatan besar dunia seperti Amerika Serikat, Cina, India, Rusia, dan Uni Eropa.

Meningkatnya citra Indonesia sebagai negara demokrasi memiliki arti penting bagi China dan Barat dalam sudut pandang yang kontras. Bagi China, demokrasi Indonesia dan India berpotensi mengintimidasi legitimasi pemerintahan Partai Komunis Cina dengan pseudo democracy-nya serta dapat menjadi inspirasi bagi gerakan demokrasi di dalam negeri Cina. Sementara bagi Barat, demokrasi di Indonesia justru menjadi bukti keberhasilan sebuah proses reformasi di negara otoriter-militeristik dengan kekuasaan partai tunggal Golkar (yang dapat disamakan dengan Partai Komunis Cina). Sehingga tidaklah mengherankan apabila Cina sangat berminat membangun hubungan strategis dengan Indonesia karena Indonesia belum dan tidak terikat dengan aliansi pertahanan seperti Five Power Defense Agreement (FPDA)yang terdiri dari Malaysia, Inggris, Australia, Singapura, dan Selandia Baru. Dengan kata lain, tidak akan rugi untuk memiliki hubungan baik dengan Indonesia.

Namun karena Indonesia demokrasi, maka secara logis akan tampak bahwa Indonesia akan lebih dekat kepada India, Amerika Serikat dan Barat, sehingga membuat Cina terisolasi dari sudut pandang politik. Padahal secara ekonomi, Cina berada dalam satu kubu liberalisasi ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan jalur komunikasi yang baik antara Cina dan Indonesia dalam menyikapi perkembangan kawasan dan dunia. Sebagaimana pernah disampaikan oleh seorang ahli strategis Cina kepada Indonesia bahwa negara-negara Barat khususnya AS dan Eropa tidak menghendaki sustainable progress di kawasan Asia karena sifat dasar manusia, iri dengki, serta ketakutan akhir dari supremasi Barat (orang kulit putih) sebagaimana ditegaskan dalam penelitian seorang ahli dari Universitas ternama di Inggris.

Sebagai tambahan, diskusi di Jepang, Korea, dan sebagian besar negara Asia adalah mempertimbangkan secara sungguh-sungguh kepemimpinan China yang bertanggung jawab dalam persaudaraan Asia untuk kemajuan Asia dan stabilitas dunia. Meskipun Amerika Serikat dan Barat masih memiliki dominasi di sejumlah bidang khususnya militer, namun hal itu hanya masalah waktu saja. Dalam 10-50 tahun mendatang dunia akan berubah dan anak cucu kitalah yang akan mengalami dan menyaksikannya.

Oleh karena itu sangat penting untuk mempersiapkan masa depan Indonesia yang melindungi kepentingan rakyat Indonesia.

Bangsa Barat sudah diramalkan oleh Nostradamus akan menuju kehancuran sebagai akibat dari keyakinannya sendiri yaitu liberalisme. Mulai dari keserakahan dalam melakukan aktifitas ekonomi, bukti angka kehamilan remaja tertinggi di dunia (Amerika Serikat maupun Uni Eropa) telah menciptakan generasi yang rusak karena ketidaksiapan mentalitas dan pola pendidikan di rumah tangganya. Setiap ideologi memiliki kekuatan dan kelemahan yang akan dominan pada suatu masa sebagai akibat dari hukum alam.

Marilah kita lindungi bangsa Indonesia dari kasus-kasus moral yang dapat menghancurkan masa depan bangsa Indonesia. Hal ini tidak identik dengan ajaran agama yang menghakimi perilaku moral. Melainkan secara cerdas kita kembangkan pemahaman publik Indonesia tentang pentingnya sinergi ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari kita yang akan membimbing kita dalam perjalanan hidup. Bangsa Indonesia tanpa agama-pun telah memiliki standar moral yang tinggi sehingga tidak terlalu sulit untuk menemukan formula kesepakatan aturan hidup yang dapat menjaga generasi muda Indonesia baik dari ajaran adat-istiadat, ajaran agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Khong Hu Chu, dll.

Cina bahkan dengan liberalisme ekonomi dan sosialisme politik ala Cina telah mulai melakukan penggalian jati diri bangsa Cina dengan ajaran Cina kuno berupa filsafat Khong Hu Chu yang dikembangkan pada masa Presiden Jiang Zemin. Hal ini mencerminkan kehati-hatian dalam melaksanakan ideologi Barat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seyogyanya hal yang sama juga harus ditempuh oleh Indonesia dengan penggalian kekayaan filsafat dan khasanah di nusantara, sehingga kita tidak terjebak dalam arus dinamika dunia yang akan menenggelamkan Indonesia. Menjadi kewajiban para pimpinan nasional dengan dukungan intelijen yang kuat untuk menentukan arah dan merancang masa depan Indonesia raya. Dalam kaitan tersebut, hubungan aliansi strategis yang mantap dengan berbagai negara asing tidak dapat terhindarkan.

Tulisan ini berusaha membuka wacana tentang perlunya membaca geopolitik dan geostrategi lingkungan lokal, nasional, regional dan internasional. Namun keputusan tetap berada di tangan pimpinan nasional Indonesia. Sudah waktunya Indonesia bermain secara pintar dengan kalkulasi yang tepat serta dalam bimbingan kepentingan 250 juta rakyat Indonesia yang mendambakan kesejahteraan yang adil dan merata.

MHI

Advertisements
Posted in intelijen, nasionalisme, politik, security | Tagged , , , , | Leave a comment

Prinsip Kontra Intelijen

Pada masa lalu, intelijen Indonesia dalam hal ini BAKIN dan BAIS cukup disegani oleh lembaga-lembaga intelijen di dunia. Khususnya kehandalan unit khusus Kontra Intelijen (Istilah kerennya Foreign Counter-Intelligence atau FCI). Unit khusus yang wajib ada di seluruh lembaga intelijen di dunia tersebut memiliki peranan yang sangat penting dalam mendeteksi setiap gerak-gerik intelijen asing di negara kita. Sejumlah kasus besar yang melibatkan lembaga bergengsi seperti MI6, CIA dan KGB pada era perang dingin telah berhasil diungkap oleh unit khusus BAKIN yang seringkali juga bekerjasama dengan BAIS.

Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas kasus demi kasus yang menjadi prestasi tersendiri tersebut, tetapi saya akan mempertanyakan mengapa di era reformasi ini malahan justru saya menerima begitu banyak e-mail yang mengeluhkan sebuah trend kemunduran.

Beberapa masukkan tentang kemunduran tersebut misalnya semakin kurangnya pelatihan di luar negeri atau minimal bersama counter-part untuk membiasakan deteksi dini pola operasi intel asing. Lebih jauh lagi, pola pelatihan bahasa asing secara praktis yang ditujukan untuk penguasaan secara maksimal atas satu atau beberapa bahasa asing juga belum ada peningkatan berarti. Hal ini lebih disebabkan kekeliruan manajemen sumber daya manusia, singkatnya ada cukup banyak kasus salah penempatan dan perlunya peningkatan SDM. Faktor yang juga cukup penting adalah lambatnya update teknologi dan variasi teknik operasi yang memanfaatkan teknologi baru.

Pada masa perang dingin, memang peranan CIA dalam melatih unit khusus Kontra Intelijen tidak bisa diabaikan. Unit Khusus Intelijen Indonesia yang bahkan menggunakan simbol yang lebih mirip lambang lembaga intelijen Amerika tersebut, begitu efektif dan efisiennya dalam hampir setiap operasi. Para senior tentunya masih ingat bagaimana majalah Playboy bisa ada di meja kerja kita pada era mesranya hubungan BAKIN dengan CIA (bagi para pejuang moral dalam tubuh intelijen, mohon maaf atas fakta ini).

Counter-Intelligence atau Kontra-Intelijen mencakup intelijen domestik (dalam negeri), fungsi pengamanan informasi dalam negeri, kontra-spionase, dengan tujuan melakukan penetrasi terhadap kegiatan rahasia intelijen asing di negara kita. Salah satu tujuan utama operasi Kontra Intelijen adalah mengungkapkan agresi, subversi dan sabotase rahasia. Kegiatan berupa agresi, subversi dan sabotase rahasia tersebut biasanya merupakan rangkaian rumit dari jaring kegiatan intelijen asing yang juga melibatkan “penghianat” dari kalangan bangsa kita sendiri.

Setidaknya ada 4 prinsip utama kegiatan Kontra-Intelijen menurut Jeffrey Richelson, yaitu:

Penetrasi terhadap kegiatan intelijen asing yang bermusuhan di negara kita, rekrutmen agen dan defector (pembelot) yang mendukung negara dan bangsa kita, riset dan pengumpulan data mengenai intelijen asing atau oposisi (baik yang bermusuhan maupun yang bersahabat), dan penghancuran dan netralisasi kegiatan intelijen asing yang bermusuhan.

Dari prinsip-prinsip tersebut di atas dapat kita lihat bahwa tidak semua kegiatan intelijen asing bisa kita anggap “membahayakan” NKRI. Hanya intelijen asing yang bermusuhan saja yang perlu dinetralisir kegiatannya, sementara kegiatan intelijen asing yang bersahabat bisa memberikan manfaat berupa warning, melalui jalur counter-part. Definisi bermusuhan tersebut bisa ditentukan dari fakta di lapangan maupun atas keputusan pimpinan yang memiliki informasi yang lebih lengkap. Biasanya unit-unit pelaksana operasi hanya memiliki potongan informasi dan tidak bisa menentukan kategori bermusuhan atau bersahabat.

Pekerjaan unit Kontra-Intelijen merupakan kebalikan dari pekerjaan unit spionase aktif yang beroperasi di luar negeri. Karena sifat pekerjaannya yang bertolak belakang tersebut, maka tidak mengherankan bahwa setiap anggota intelijen yang bertugas ke luar negeri wajib memiliki pengetahuan mengenai Kontra Intelijen. Sebaliknya, anggota Kontra Intelijen juga perlu tahu cara kerja spionase aktif.

Sejarah akan terus bergulir dan tercatat dalam setiap periode. Ada kalanya catatan itu begitu baik dan ada kalanya catatan itu bagaikan noda. Semua tergantung dari kesungguhan para pelaku sejarah dalam menjalani hidup dan pekerjaannya. Sehubungan dengan pertanyaan dan cibiran terhadap pekerjaan intelijen, ingin saya tegaskan bahwa intelijen hanyalah sebuah pilihan profesi dari sekian banyak profesi lain yang juga memberikan manfaat kepada masyarakat, bangsa dan negara.

Oleh karena itu, tidak bisa dinilai dari salah satu sudut saja, misalnya soal sifat dasar pekerjaan yang diliputi kerahasiaan. Banyak orang menilai pekerjaan ini terlalu kotor karena kepura-puraan, tidak menyenangkan dan bahkan cenderung jahat. Padahal semua itu sudah menjadi bagian alamiah pekerjaan intelijen yang melakukan semua itu demi kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan seluruh elemen bangsa untuk survive dan juga untuk negara agar tetap eksis di dunia. Bila segenap komunitas intelijen meyakini itu dan sungguh-sungguh profesional, niscaya tidak akan ada perasaan rendah diri ataupun over confident.

Dalam beroperasi, seorang intelejen sukses akan memegang prinsip yg dilaksanakan dalam melakukan kontra intelejen. Prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh petugas kontra intelijen asing:

  1. Aktif, pro-aktif bahkan dalam posisi menyerang target. Dalam sejarah dunia intelijen, tidak ada operasi kontra intelijen pasif/bertahan yang berhasil sukses. Karena operasi kontra intelijen beroperasi di dalam wilayah hukum dan kedaulatan negara sendiri maka harus menggunakan seluruh kekuatan yang ada dalam melindungi informasi dan kepentingan nasional Indonesia.
  2. Bersikap profesional. Meskipun kontra intelijen beroperasi di dalam negeri, namun hal ini jangan meremehkan kemampuan lawan yang pastinya merupakan unsur-unsur spionase terbaik yang dikirim sehingga metodologinya juga akan sangat canggih baik dari sisi teknis operasi maupun teknologi pendukungnya. Oleh karena itu, setiap operator kontra intelijen harus profesional dan tidak lengah terhadap trik dan tipuan operasi lawan.
  3. Menguasai wilayah operasi, karena kita bermain di kandang sendiri tentunya penguasaaan wilayah secara logika akan lebih baik daripada intel asing yang beroperasi di negeri kita. Karena itu, jangan malas dan jangan pelit dalam membiayai proses penguasaan wilayah di nusantara. Hal ini wajib hukumnya bagi unit kontra intelijen.
  4. Memahami sejarah pola-pola operasi intel asing di Indonesia. Hal ini diperlukan sebagai pembanding dalam menentukan taktik dan strategi kontra intelijen. Tentunya juga harus terus di-update dengan perkembangan zaman.
  5. Padukan antara pengalaman operasi dan analisa. Seringkali petugas lapangan mengabaikan proses analisa dan terjebak dalam situasi lapangan sehingga dapat terkecoh oleh umpan-umpan intel asing. Oleh karena itu, dalam setiap operasi kontra intelijen, perlu ada waktu sejenak melakukan analisa terhadap operasi yang berlangsung sehingga efektifitas operasi akan dapat dicapai.
  6. Kerjasama erat antar instansi keamanan. Pada level pimpinan perlu dibangun kesamaan pandangan dalam melindungi operasi kontra intelijen asing. Sehingga tidak terjadi saling potong antar operator kontra intelijen, misalnya antara BIN, BAIS, dan Polisi. Apabila terjadi kecelakaan operasi, tentunya harus segera diselesaikan tanpa mengedepankan korps masing-masing, melainkan mengutamakan kepentingan nasional. Dalam pengamatan saya, tampak bahwa ini merupakan salah satu kelemahan utama di Indonesia sehingga operasi-operasi yang bertujuan sama seringkali bertabrakan karena kepentingan unit masing-masing. Bekerjasamalah dan saling menghormatilah.

Catatan ini khusus buat menyemangati seluruh rekan-rekan yang mengalami tekanan, depresi, ketidaknyamanan dan segala dampak negatif dari sistem kerja, situasi dan kondisi pekerjaan intelijen Indonesia.

Semoga berhasil dan sukses.

MHI

Posted in intelijen | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Intelejen Ekonomi, Kebodohan dan Realita

Pembangunan sebuah negara akan selalu diwarnai oleh berbagai kompetisi internal dan eksternal, sehingga terbuka sejumlah pilihan cara pencapaian kemajuan Indonesia Raya. Pengawasan yang saya maksudkan adalah bukan hanya melulu soal korupsi dan buruknya implementasi, melainkan juga dalam hal penentuan pilihan-pilihan terbaik yang dapat dilakukan oleh pemerintah bersama-sama segenap elemen bangsa Indonesia.

Otoriterisme dan militerisme yang dibimbing oleh niat baik, dan implementasi yang profesional dapat saja menjamin tercapainya kesejahteraan seperti negara kota Singapura atau Cina dengan partai komunismenya. Demokrasi dan liberalisme ekonomi juga bisa saja menjadi jalan dalam perwujudan kesejahteraan sebagaimana negara-negara barat saat ini. Namun ingat pondasi yang kokoh yang dibangun di barat seluruhnya berdasarkan otoriterisme sebelum abad 19 yang mampu memobilisasi kemajuan zaman, sementara Indonesia Raya (Nusantara) dijajah dan diperkosa secara biadab oleh Belanda.

Sejarah tidak akan pernah hilang dalam ingatan dan hati kita, hal ini bukan dendam, melainkan mimpi buruk yang diwariskan oleh leluhur kita melalui catatan dan akan terus mengalir entah hingga generasi ke berapa. Akibatnya kita lahir dengan potensi generasi yang minder, bodoh, lambat, serta penuh kekacauan dalam menentukan langkah perjalanan kita.

Kita sebagai bangsa besar dengan mahakarya peninggalan bersejarah kerajaan-kerajaan nusantara telah melupakan jati diri yang sesungguhnya, sehingga kepribadian bangsa Indonesia yang percaya takdir Tuhan, baik dan sederhana namun maju dan profesional hilang ditelan sejarah. Indonesia adalah bangsa yang sedang tertatih-tatih melakukan transisi dan tranformasi untuk kembali mengenali jati dirinya.

Perhatikan bagaimana kita sebagai bangsa akhirnya juga mengikuti langkah negara-negara Barat dalam melakukan penjajahan kepada rakyatnya sendiri. Perhatikan bagaimana kita memperlakukan saudara kita di Timor-Timur, Aceh, Maluku, dan Papua. Berangkat dari warisan penjajahan Belanda yang menanamkan bibit permusuhan antar etnis di Indonesia, kita tanpa sadar memperlakukan saudara kita sendiri secara buruk. Seyogyanya hal itu tidak perlu terjadi andaikata saja kita cukup percaya diri dan memiliki keyakinan pada nilai-nilai kebaikan nusantara. Kita tidak pernah membutuhkan tekanan barat untuk transformasi diri kita andaikata saja kita membuka mata dan hati serta mendekati permasalahan secara obyektif dan sungguh-sungguh berupaya menyelesaikannya.

Kita selalu ketakutan bahwa kita akan berpisah satu dengan lainnya atau ketakutan akan hancurnya Indonesia Raya, dan kecurigaan selalu kita arahkan kepada negara-negara barat khususnya Amerika Serikat, Belanda dan Inggris. Sementara itu, sejarah modern Indonesia juga diwarnai ketakutan akan bahaya komunisme yang dihembuskan barat pada tahun 1950-1960an. Akibatnya kita sangat curiga kepada kelompok sosialis-komunis dan negara asing pembawa ideologi komunis seperti Cina dan Uni Soviet. Bahkan barat dengan jahatnya menjerumuskan kita ke dalam kebencian etnisitas kepada sesama rakyat Indonesia dari suku bangsa Tionghoa. Akibatnya kita saling menyerang dan membunuh, seiring dengan pembantaian sejumlah jenderal dan pembalasan pembantaian terhadap seluruh pimpinan Partai Komunis Indonesia. Operasi intelijen barat sangat berhasil bukan? Namun kita telah merobek-robek kembali persatuan Indonesia.

Peranan intelijen AS, Australia, Portugal dan Inggris di Timor Timur, peranan intelijen AS dan Inggris di Aceh, peranan intelijen Belanda di Maluku dan peranan intelijen AS, Australia dan Inggris di Papua sangatlah besar. Betapapun mereka tidak sungguh-sungguh ingin menolong Indonesia, buktinya tidak pernah ada satupun pembicaraan serius dari operasi intelijen asing di daerah konflik Indonesia tersebut dibahas secara transparan untuk menolong Indonesia. Bahkan secara cerdik digunakan untuk kepentingan eksploitasi kekayaan alam nusantara yang telah memiskinkan rakyat Indonesia yang hidup di daerah konflik tersebut.

Tugas pokok intelijen AS, Australia, Inggris dan kebanyakan negara barat adalah untuk melindungi kepentingan ekonomi mereka yakni eksploitasi (penjajahan modern) kekayaan alam Indonesia untuk mempertahankan supremasi ekonomi, politik dan militer mereka di dunia. Lagi-lagi Indonesia menampilkan wajah bodoh dengan berterima kasih atas penjajahan tersebut.

Tidaklah mengherankan apabila elemen intelektual sosialis dan komunis Indonesia masuk ke daerah konflik dan memberikan pelatihan khusus untuk mengadakan perlawanan terhadap perusahaan multinasional sekaligus perlawanan terhadap pemerintah Indonesia dan menyuarakan kemerdekaan melalui pemisahan diri dengan berlandaskan kepada konsep self-determination. Pemerintah Indonesia yang naif, militer yang berpandangan sempit, intelijen yang buta telah kecolongan di sana-sini, sehingga persoalan demi persoalan mengkristal menjadi sebuah ancaman laten yang sulit dihapuskan. Akibatnya aparat tiba-tiba harus berhadapan dengan rakyat padahal seharusnya aparat melindungi rakyat, namun anehnya terjadi juga penyerangan aparat oleh rakyat. Memusingkan bukan?

Intelijen asing yang melihat dinamika tersebut tersenyum puas melihat kebodohan kita yang mendorong kita sesama orang Indonesia berkelahi. Hal ini dapat saja mengkonfirmasi teori konspirasi yang tidak menginginkan Indonesia maju, namun saya kurang setuju karena semuanya justru berasal dari kebodohan dan emosi kita yang kurang terkendali manakala menghadapi masalah. Tidak mengherankan apabila kita masih saja bermimpi menemukan Ratu Adil untuk menyelamatkan Indonesia Raya, padahal Ratu Adil tersebut hanya akan lahir apabila kita bersama-sama mendorong suatu perubahan massal Indonesia Raya yang sadar akan jati dirinya sendiri.

Saya berbicara tentang jati diri, namun ketika melihat sistem pendidikan, rasanya kurang tampak kuat pembangunan identitas diri bangsa Indonesia berdasarkan kepada konstruksi sejarah yang dapat membuat kita bangga – pride (namun tidak sombong – arogan) akan diri kita. Yang terjadi adalah sebaliknya, kita cenderung malu dengan diri kita sebagai bangsa Indonesia. Terlalu banyak catatan hitam dan kebodohan dalam sejarah kita, seyogyanyalah kita malu namun janganlah menghalangi kemajuan dan perubahan demi generasi muda Indonesia. Mungkin kemajuan Indonesia Raya tidak terjadi sekarang, tetapi akan terjadi pada 10-20-30 tahun mendatang, atau bahkan 100 tahun mendatang.

Di era reformasi yang telah membuka titik terang, kita masih menghadapi banyak persoalan dan pekerjaan rumah. Salah satunya adalah dalam menyikapi perdagangan bebas (free trade). Perdebatan sengit soal Persetujuan Cina-ASEAN Free Trade baru-baru ini mencerminkan masih kacaunya perencanaan pembangunan nasional Indonesia. Anggaplah Indonesia sudah tidak dapat lagi menarik diri dari keputusan untuk terjun ke dalam sistem ekonomi dunia yang liberal. Apa-apa saja yang perlu Indonesia persiapkan? Perencanaan macam apa yang harus disusun Indonesia? Serta bagaimana Indonesia mempersiapkan perekonomian nasional Indonesia yang kuat untuk dapat survive dalam gelombang perdagangan bebas? Pertanyaan tersebut sangat sulit apabila kita tidak atau belum mengetahui apa yang kita ingin lakukan, ingin perkuat, ingin fokuskan bukan? Akibatnya kita beradu argumentasi di titik yang salah, yaitu saat kritis menjelang implementasi perdagangan bebas, seharusnya adu argumentasi terjadi pada saat penyusunan persetujuan secara internal di dalam negeri, adu argumentasi juga seharusnya terjadi pada saat penyusunan rencana pembangunan yang mengantisipasi pasar bebas, serta bukan di ujung waktu pelaksanaan persetujuan.

Menarik diri dari persetujuan akan tampak tidak kredibel bahkan membuktikan kepada dunia tentang Indonesia yang merasa pintar tetapi sangatlah bodoh. Terjun bebas ke dalam persetujuan perdagangan bebas tanpa ada upaya penyelamatan sektor yang rawan juga akan menjadi bahan tertawaaan karena sama saja dengan pembunuhan industri dalam negeri. Lantas apa yang dapat dilakukan? Perlu dilakukan segera dalam waktu singkat identifikasi sektor industri apa yang akan terhantam keras dan cari jalan keluarnya, barangkali masih ada kelonggaran dari negara mitra dagang untuk mempertimbangkan stabilitas industri dan perekonomian nasional. Entahlah saya juga kurang mengerti masalah ini, mudah-mudahan ekonom cerdas Indonesia di Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta berbagai pihak lainnya dapat menemukan jalan keluar yang baik.

MHI

Posted in nasionalisme, sejarah | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Intelejen China dan Mozaik Nusantara Indonesia

Dalam puluhan tahun belakangan, entah sudah berapa puluhan atau mungkin ratusan kali Intelijen Indonesia didekati oleh China. Baik dari tingkat Menteri maupun pelaksana operasi, People Republic of China melalui Badan Intelejennya mengadakan pertemuan, diskusi dan kerjasama dengan Badan Intelejen Indonesia. Situasi tersebut mengindikasikan bahwa keberhasilan China di bidang ekonomi telah meningkatkan percaya diri yang luar biasa yang mendorong intelijen China mulai menempuh langkah-langkah strategis merangkul seluruh kawasan Asia.

Bagaimana Intelijen Indonesia seharusnya mengambil sikap?

Memperhatikan kecilnya perhatian negara-negara Barat, dengan pengecualian Amerika Serikat (AS) di kawasan Asia Pasifik, maka sesungguhnya tidak terhindarkan lagi bagi Indonesia untuk mempertimbangkan terbukanya jalur-jalur komunikasi rahasia, sebagaimana pernah dibangun pada era Sukarno dengan Poros Jakarta-Peking. Salah satu pertimbangan yang kuat adalah fakta keberadaan etnis China warga negara Indonesia yang dapat menjadi perekat hubungan bilateral kedua negara apabila dikelola secara baik.

Bangsa Indonesia yang multikultural telah menempuh era baru dengan persaudaraan sejati antar etnis, darimana-pun kita berasal apakah itu rumpun Melayu, Chinese, Melanesian, Arab, dll adalah tetap satu Indonesia. Faktor persatuan Indonesia tersebut pernah dikoyak-koyak oleh Amerika Serikat dan Inggris dengan peristiwa bersejarah 1965, dimana perang ideologi komunisme-liberal telah membuat hubungan harmoni sesama anak bangsa Indonesia hancur hingga bertahun tahun dalam suatu bahaya laten disintegrasi negara.

Betapapun manisnya tawaran dan bantuan negara-negara Barat, boleh dikatakan karena mereka merasa super dan lebih pandai, maka Indonesia telah berkali-kali ditipu dan dimanfaatkan dalam memelihara supremacy of the west. Hampir seluruh peristiwa kehancuran Indonesia Raya diwarnai oleh campur tangan Barat, khususnya AS, Inggris dan Australia. Apakah Barat sungguh-sungguh ingin melihat Indonesia yang maju? tentu menjadi tanda tanya besar karena sejarah telah mencatat bahwa pembodohan terhadap Indonesia telah berulang kali terjadi dan sangat menyakitkan perjalanan bangsa Indonesia. Sesungguhnya mereka tidak akan pernah senang melihat kemajuan kita bukan?

Tidak lama lagi, supremacy of the west will be finished, dan perubahan konstelasi global tidak terhindarkan lagi. Propaganda clash of civilization yang secara canggih disusun telah membangun sebuah kecurigaan antar bangsa, termasuk dalam hubungan sesama anak bangsa Indonesia.

Sejarah sebenarnya juga pernah mencatat bahwa supremasi Kerajaan China juga cenderung dan hampir sama dengan Barat, mungkin hal ini sudah menjadi hukum alam. Dimana yang kuat mendominasi yang lemah atau bahkan mendiktenya.

Indonesia yang relatif sangat lemah secara militer adalah negara dengan mayoritas bangsa/penduduk yang berkarakter baik dan tidak macam-macam bahkan kurang memiliki cita-cita selain menikmati perjalanan hidup secara biasa saja. Hal itu telah menyebabkan sikap yang cenderung pasif dan tidak ekspansif. Selain itu, rendahnya kapabilitas baik secara intelektual (masih agak bodoh) maupun secara fisikal (kepemilikan unsur-unsur power), telah menciptakan Indonesia yang inward looking dan rendah hati (kadang menjadi rendah diri). Faktor-faktor tersebut menyebabkan reaksi-reaksi Indonesia mudah diukur dan mudah ditebak arahnya.

Penuh keraguan, kurang mengerti kepentingan nasional, tidak antisipatif, namun sangat reaktif manakala terjadi sesuatu yang mengganggu perasaan dan harga diri. Sayangnya karena lemah, maka hanya bisa teriak marah ataupun bahkan menangisi nasib sebagai bangsa yang lemah.

Benarkah kita bangsa yang lemah? Tidak!

Kita bangsa yang bersikap menerima pada takdir Tuhan, apapun agama yang kita yakini dari luar (Hindu, Buddha,Islam, dan Kristen) hanya merupakan satu dari rangkaian mosaik dari jati diri bangsa Indonesia. Sikap tersebut melahirkan karakter lambat, menunda persoalan, dan bahkan lari dari kenyataan. Inilah yang menyebabkan kita tampak agak bodoh di dunia internasional bukan?

Siapa yang bertanggung jawab dalam sikap kita tersebut? Adalah warisan sejarah ratusan tahun dimana kita lupa akan jati diri kita sebagai bangsa yang menerima takdir Tuhan, menjunjung tinggi nilai-nilai yang baik, serta saling kasih sayang dengan sesama manusia, menyayangi binatang dan alam semesta, serta tidak serakah dalam menikmati kehidupan duniawi. Kata kuncinya adalah sederhana.

Boleh dikatakan kehancuran kerajaan-kerajaan Nusantara sebagai akibat dari perang saudara lebih banyak dipengaruhi faktor pertempuran para elit di keluarga Istana, atau karena perselisihan yang kurang signifikan dan dapat didamaikan. Namun kehancuran moral bangsa-bangsa di Nusantara (sebelum lahirnya Indonesia) pertama kali terjadi adalah akibat penjajahan Belanda yang sangat kejam dan masih melekat bahkan dalam sifat kebangsaan kita yang saling curiga. Adalah Belanda yang mengajarkan kita tentang makna penghianatan dan saling membunuh sesama anak bangsa. Belanda juga mengajarkan kita bagaimana untuk menjadi serakah dan mengeksploitasi sesama anak bangsa. Belanda juga mengajarkan bagaimana memelihara konflik, bahkan Belanda mengajarkan bagaimana membangun sistem kenegaraan yang koruptif.
Lalu apakah kita akan menjadi murid Belanda terus menerus hingga saat ini?

Saatnya kita menjawab dengan perubahan!

MHI

Posted in politik | Tagged , , | Leave a comment

Prasangka Terorisme

Media barat terlihat sekali memiliki prasangka rasial dalam menulis berita soal terorisme. Contoh: media barat langsung mengaitkan bom dan penembakan di Norwegia dengan terorisme Islam. Faktanya: yang melakukan adalah orang Norwegia sendiri yang beragama Kristen.

Contoh lain: setelah terungkap pelakunya bukan orang Islam dan bukan dari negara-negara yang selama ini secara serampangan selalu disebut sebagai pemasok teroris, media barat pun tak menyebut si pelaku dengan cap, teroris, melainkan fundamentalis. Kejadiannya pun hanya disebutkan pengeboman dan penembakan brutal. Bukan serangan terorisme. Itu akan sangat beda jika yang melakukan adalah orang Islam.

Laporan – laporan media barat yang acap kali mengaitkan tindakan terorisme dengan Islam sudah banyak diprotes. Namun, kejadian di Norwegia itu membuktikan bahwa terorisme bisa muncul di agama apa saja dan di suku apa saja. Jadi, tak ada itu streotipe Islam adalah teroris.

MHI

Posted in terorisme | Tagged , , , , | Leave a comment

Catatan Kecil Intelijen

Kondisi Intelejen berkaitan dengan kondisi negara. Kalau kita puas dengan keadaan negara artinya intelejennya bagus. Tetapi kalau tidak puas dengan keadaan negara, mulai dari general feelingnya, baik itu di bidang Ekonomi, Politik, Keamanan, Budaya dan sebagainya, berarti intelejennya tidak intelejen. Dengan kata lain intelejennya tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya.

Intelejen adalah sebuah komunitas kecil tetapi cerdas untuk membaca masalah negara dan memberikan rekomendasi kepada penyelenggara negara. Bahkan dalam beberapa contoh nyata, intelejen bahkan menjadi shadow goverment atau pemerintahan bayangan, bahkan untuk negara yang dikatakan paling demokratis seperti Amerika Serikat (AS) misalnya.

Zaman pemerintahan Soeharto misalnya, mengapa pemerintahannya begitu hebat? Karena intelejennya hebat. Tetapi, pada akhirnya ia juga mengalami ketidakhebatan intelejen, karena adanya regenerasi dan perubahan lingkungan yang tidak diantisipasi cepat. Contohnya, kenapa sampai terjadi krisis ekonomi? Karena intelejen ekonominya lemah, sementara kinerja intelejen ikut menentukan nasib negara.

Penyelenggaraan negara tidak akan mungkin hidup tanpa adanya intelejen. Soal kondisi intelejen sekarang yang kurang bagus, maka akan kembali lagi kepada Leadership (Kepemimpinan) dan Statesmanship (Kenegarawanan). dalam hal ini, kita bukan hanya membutuhkan pemimpin, tetapi juga seorang negarawan. Negarawan itu adalah seseorang yang memahami tentang kenegaraan, masalah dan yang paling penyelenggaraannya.

Saat ini misalnya, penulis berani katakan bahwa semenjak zaman Habibie atau lebih tepatnya pasca reformasi. Tidak ada seorangpun pemimpin dan negarawan yang mengemuka di Indonesia, bahkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sekalipun. Pendapat ini penulis kemukakan karena terlihat dari finalitas kepemimpinannya yang tidak berakhir dengan baik. Kepemimpinan Habibie, Gus Dur dan Megawati. Kemudian SBY, kesan penulis 4 bulan pemerintahannya kedepan juga tidak akan berakhir dengan baik.

Pada masa Soeharto, janganlah kita melihat dan menilai dalam konteks hari ini. Soeharto pada awalnya adalah seorang pemimpin yang dapat mengubah keadaan bangsa dan negara dari sangat terpuruk menjadi lebih baik. Dengan melakukan perubahan tentunya ada korban. Tetapi kalau melihat perbandingan antara yang dikerjakan dengan korban. Penulis merasa lebih banyak yang mendapatkan manfaat dari pada yang menjadi victim.
Tetapi tentu saja, korban korban itu pun tak dapat kita kesampingkan begitu saja. Buktinya hasil kepemimpinan soeharto yang 32 tahun pun tidak berakhir dengan baik. Selama 32 tahun itu bangsa ini belum mampu mencapai perkembangan peradaban yang sesuai dengan keinginan. Bahkan dapat penulis katakan selama 62 tahun penyelenggaraan negara Indonesia telah gagal mengembangkan peradaban bahkan sebetulnya perkembangan peradaban itu telah gagal semenjak zaman Soekarno.

Betul bahwa Soekarno adalah negarawan, bahkan boleh dikatakan negarawan andal. Akan tetapi apa yang dihasilkannya ketika tahun 1965? Secara budaya masih primitif. Bahkan setelah Soekarno turun dan digantikan oleh Soeharto yang berusaha melakukan perubahan peradaban, tetapi sampai saat sekarang belum berhasil. Mengapa sampai dengan sekarang berusia 63 tahun bangsa Indonesia yang besar ini tidak menjadi bangsa yang mengemuka? Maka pada akhirnya kita akan kembali pada identitas, identitas sebagai ras Melayu, beragama Islam dan terutama orang Jawa yang jujur harus penulis katakan berdasarkan Antropologi budaya tidak memiliki jiwa untuk menjadi bangsa yang berkembang secara peradaban. Sampai dengan sekarang, penulis belum tahu siapakah yang salah dalam keadaan ini.

Jika banyak apologie yang mengatakan bahwa Melayu dalah bangsa yang lemah merupakan paradigma lama dan memberikan bukti bahwa Malaysia mulai maju. Maka penulis belum berani mengatakan Malaysia maju, kenapa? apa buktinya? Malaysia belum memiliki peradaban yang sejajar dengan AS atau Republik Rakyat China (RRC). Keberadaan gedung tinggi seperti Petronas building belum bisa dikatakan maju. RRC memiliki peradaban yang tinggi karena kualitas intelejennya hebat dan bagus. Setelah tahun 1949, RRC dipimpin oleh pemimpin pemimpin andal dari Mao Zedong yang otoriter dan sentralistis sampai Deng Xiao Ping dan kawan kawan.

Pada masa ini penulis bergelut dalam sebuah organisasi yang membentuk perasaan optimis bahwa suatu saat Indonesia akan dipimpin oleh negarawan andal yang mampu menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beradab sesuai dengan cita cita Indonesia Raya. Penulis berharap pada generasi penulis, penulis belum berharap banyak pada generasi diatas karena mereka masih hasil produk lama.

Dari segi intelejen, penulis pesimistis terhadap pemerintahan sekarang. BIN (Badan Intelejen Negara) sekarang lemah, tidak bisa menganalisa negara negara dengan tepat karena tidak memiliki wibawa untuk mempengaruhi pembuat keputusan. Rasanya sia sia memiliki sebuah lembaga yang dianggap hebat tapi dalam kenyataannya tidak hebat. atau produknya hebat, tapi tidak memiliki wibawa terhadap penyelenggara negara.

Dari semua zaman kepemimpinan di Indonesia terutama masa Soekarno, Soeharto dan terutama pasca reformasi. Hanya satu yang membedakan intelejen di masing masing era tersebut, yaitu style. Sebagai Presiden, Soeharto seorang pemimpin intelejen yang hebat. Ia sering menggunakan sistem kepemimpinan Jawa, yaitu menunggu. Dalam konteks intelejen Soeharto juga sering menggunakan junior. Karena junior memiliki semangat yang tinggi untuk mencapai karir dan lebih berani menempuh resiko dibandingkan orang tua. Tidak itu saja, Soeharto juga memiliki mata rantai intelejen, bahkan lebih dari sepuluh. Jadi setiap ada masalah negara, Ia bisa langsung mengkomparasi dengan cepat. Kebetulan pada masa itu masih banyak orang Indonesia didikan Belanda yang tingkat pendidikannya lebih baik dari Republikan. Dengan demikian Soeharto memiliki produk intelejen yang berkualitas. Selain itu ia juga menghargai, menghidupkan dan merawat intelejen dimana salah satu sumber pendanaanya berasal dari SDSB.

Di era Soekarno, Indonesia juga memiliki kepala intel yang andal, yaitu Soebandrio. Soebandrio seorang intelejen jenius tetapi memiliki watak yang tidak disukai oleh banyak orang sehingga memiliki banyak musuh. Harus diakui Soebandrio banyak berjasa kepada negara. Salah satunya adalah turut mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi. Dalam konteks internasional, Soebandrio mampu menggetarkan Washington dan London karena Ia didukung oleh staff yang kuat yang disebut Badan Pusat Intelejen (BPI), bahkan sebagai intelejen Soebanrio juga merangkap sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu) sehingga Ia bebas bergerak.

Pada masa kekinian, kalau BIN kuat maka 4 bulan terakhir masa pemerintahan SBY negara tidak akan seperti sekarang, serba ketidakpastian. Tim intelejen harus mampu mengatakan kepada tim ekonomi terutama agar mempersiapkan kebijakan yang benar. Pada masa pasca reformasi kinerja tim intelejen dikaitkan dengan terorisme. Dalam pandangan penulis terorisme merupakan sebuah metode, melihat terorisme harus dari berbagai sisi, dari sisi sosial, sisi politik, geostrategi dan lain sebagainya. Tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Teror adalah alat untuk mencapai tujuan. Teror dapat berbentuk kekerasan pikiran, ucapan, intimidasi dan fisik. Secara metodologi maka setiap negara melakukan terorisme.

Tetapi dalam masa ini, dan terutama pasca peristiwa World Trade Center (WTC) kita dipaksa memahami terorisme ala interpretasi AS. Terorisme yaitu kelompok Muslim dan Arab atau Al Qaeda. Secara konsep arti terorisme sangat luas. Pemenggalan 3 orang gadis pada masa lalu di Poso Sulawesi juga bisa dikatakan teror. Terus kita dapat bertanya siapa Koter nya (Koordinator Teror)

Pada masa tulisan ini dibuat penulis menyaksikan seorang purnawirawan patriotik yang tidak diragukan loyalitas nya terhadap negara ini sedang ditahan berkaitan dengan kasus kematian Munir yang (katanya) aktifis Hak Azazi Manusia (HAM). Nama Mayjen Purn Muchdi Pr dibawa bawa dalam kasus ini. Lalu apa untungnya Muchdi Pr atau BIN menyingkirkan Munir? Dalam konteks intelejen tidak ada namanya pembunuhan , yang ada hanya Bina Galang, Pembinaan dan Penggalangan, membina musuh menjadi kawan. Perlu ditanyakan juga siapa Munir? bisa saja Ia intelejen, intelejen ganda. Hal seperti ini juga harus diselidiki, jangan hanya Polycarpus saja yang diselidiki. Jangan jangan Polycarpus dan Munir satu geng, karena ada sesuatu, atas instruksi atasan Munir harus di eksekusi. Dalam konteks intelejen kejadian seperti itu biasa terjadi. Sebagai institusi negara penulis yakin BIN dan Muchdi yang pada masa lalu didalamnya tidak terlibat. Pada masa Muchdi didalam BIN, banyak keberhasilan yang diraih tapi tidak pernah mendapatkan pujian, itu memang sudah menjadi doktrin intelejen. Kerja intelejen akan hilang seperti angin.

Pada masa Muchdi di dalam BIN juga dapat dilihat rekaman bahwa BIN dapat masuk ke dalam kalangan Islam dan berteman dengan kelompok radikal. Selama itu pula kelompok Islam dengan negara berteman. Bisa jadi latar belakang Muchdi yang menjadi Ketua Umum pencak silat Tapak Suci, sebuah organisasi di bawah naungan Muhammadiyah menjadi salah satu alasan mengapa pada masa itu ada kemesraan yang terjalin. Pada masa ini, merupakan kewajiban bagi insan Indonesia Raya untuk secara tehnik mengubah sistem pendidikan dan dari sisi politik pemerintah harus meningkatkan kecerdasan dan etos nasional wawasan kebangsaan. Sebagai contoh, Dr Azhari sebelum tewas nya di Batu, Malang Jawa Timur. Bahkan dapat berkeliaran secara bebas di Jawa dan Bali, berbaur dengan masyarakat. Hal seperti ini tidak akan mungkin terjadi di Malaysia atau Singapura. Ia tidak akan bebas bergerak selain karena tingkat heterogennya besar, India curiga Cina, dan Cina curiga pada Melayu begitu juga sebaliknya.

Dari segi interpretasi intelejen, kebanyakan otak pelaku teror adalah orang asing yang berkaitan dengan kepentingan asing. Secara ilmu peperangan, ancaman yang paling utama adalah negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Vietnam, AS, Filiphina, Papua Nugini, Australia, Timor Leste, India dan Thailand. Dan yang jangan dilupakan adalah bahwa Malaysia dan Singapura merupakan partner dagang AS. Hal ini berbeda dengan RRC yang melihat persepsi ancamannya adalah energi jika tidak dikelola dengan baik. Melihat persepsi ancaman terhadap Indonesia maka perlu di adakan nya pembinaan, penggalangan dan peringatan dini dengan cara DSIN yaitu Deteksi, Stratifikasi, Identifikasi dan Netralisasi. Peningkatan peran RT dan RW merupakan salah satu cara yang efektif. Ini adalah metode intel Jepang yang kemudian diadopsi oleh Indonesia. Setiap 5 kepala Keluarga itu harus satu pengawas.

Oleh karena pada masa ini pengelolaan negara dibawah kepemimpinan SBY belum mampu mensejahterkan bangsa nya. Maka dapat dipastikan pemerintahan SBY yang memiliki sifat peragu dan memiliki sifat Pangeran Jawa berkepala konspirasi ini tidak memiliki kapasitas dan elektibilitas dalam mengelola negara dan intelejen harus segera di ganti.

MHI

Posted in intelijen | Tagged , , | Leave a comment